Oleh Rizky PP
“bang, gw nitip HAMmurabi yah”, itulah pesan singkat terakhir Sondang Hutagalung kepada Dharma, wakil Kordinatornya di HAMmurabi. Pesan yang diterima pada 2 Desember 2011 lalu begitu singkat, hingga keabaian kami akhirnya berbuah pada aksi ekstrem Sondang untuk melakukan upaya membakar diri di depan istana Negara.
Pemuda 170 cm yang berperawakan tegap ini lahir pada 12 November 1989, anak bungsu dari orang tua Victor Hutagalung dan Dame Sipahutar. Di mata keluarga, ia merupakan pribadi yang sangat patuh kepada keluarga dan orang tua. Kedekatan itu sangat terasa manakala terakhir ia mencabuti uban sang ibu beberapa hari sebelumnya. Berdasarkan cerita kecil pada kami, teman – teman seorganisasinya, ia memang sangat mencintai keluarganya. Begitu cintanya sehingga ia tidak pernah sekalipun merengek untuk dibelikan sesuatu yang dianggapnya tidak penting. Sepatu yang dikenakannya pada saat melakukan aksi pun merupakan pemberian kakaknya, kesederhanaan selalu terbingkai apik dalam rautnya.
Bulan lalu Sondang baru saja menapaki usia ke – 22, bagi kami Sondang adalah “simba the lion king”, begitu lembut, ramah kepada orang di sekelilingnya tapi begitu marah pada ketidak adilan di sekitarnya. Sondang baru saja terpilih menjadi Koordiator Himpunan Advokasi-study Marhaenis Muda Untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia (HAMmurabi) juli lalu, ia kerap kali melakukan advokasi – advokasi korban pelanggaran HAM. Ia kerap kali memberikan himbauan kepada kami untuk berhati – hati dalam melakukan aksi, agar selalu melihat situasi politik sebelum melakukan aksi, agar terhindar dari klaim para politisi busuk yang coba menunggangi keikhlasan kita untuk memperjuangkan para korban.
Pemuda 170 cm yang berperawakan tegap ini lahir pada 12 November 1989, anak bungsu dari orang tua Victor Hutagalung dan Dame Sipahutar. Di mata keluarga, ia merupakan pribadi yang sangat patuh kepada keluarga dan orang tua. Kedekatan itu sangat terasa manakala terakhir ia mencabuti uban sang ibu beberapa hari sebelumnya. Berdasarkan cerita kecil pada kami, teman – teman seorganisasinya, ia memang sangat mencintai keluarganya. Begitu cintanya sehingga ia tidak pernah sekalipun merengek untuk dibelikan sesuatu yang dianggapnya tidak penting. Sepatu yang dikenakannya pada saat melakukan aksi pun merupakan pemberian kakaknya, kesederhanaan selalu terbingkai apik dalam rautnya.
Bulan lalu Sondang baru saja menapaki usia ke – 22, bagi kami Sondang adalah “simba the lion king”, begitu lembut, ramah kepada orang di sekelilingnya tapi begitu marah pada ketidak adilan di sekitarnya. Sondang baru saja terpilih menjadi Koordiator Himpunan Advokasi-study Marhaenis Muda Untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia (HAMmurabi) juli lalu, ia kerap kali melakukan advokasi – advokasi korban pelanggaran HAM. Ia kerap kali memberikan himbauan kepada kami untuk berhati – hati dalam melakukan aksi, agar selalu melihat situasi politik sebelum melakukan aksi, agar terhindar dari klaim para politisi busuk yang coba menunggangi keikhlasan kita untuk memperjuangkan para korban.




