Tampilkan postingan dengan label Tragedi Mei 1998. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tragedi Mei 1998. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Juni 2011

Kenangan Getir Korban Tragedi Mei 1998

Oleh Berto Tukan

Pembukaan

Sastra bersama ilmu filsafat merupakan mother of science. Sebagai ibu dari ilmu pengetahuan, di masa lampau sastra adalah milik kolektif rakyat. Rakyat mengkreasinya, memproduksinya dan dinikmati bersama-sama. Maka tak heran, karya-karya sastra lama tak memiliki pengarangnya yang jelas dan hanya dituliskan N.N. Hal ini berbeda dengan sekarang, di mana sastra terkesan sedikit jauh dengan masyarakat kebanyakan.

Dalam perjalanannya, sastra (baca karya sastra) mengalami banyak perubahan dan perkembangannya, sehingga kita mengenal banyak sekali aliran dan jenis karya sastra. Untuk sekadar contoh, fiksi sains, fiksi detektif, fiksi sejarah dan masih banyak lagi, mewarnai dunia sastra. Ini merupakan konsekuensi dari semakin kompleksnya kehidupan manusia dari hari ke hari. Maka, sastra yang dipercayai sebagai sebuah bentuk refleksi sastrawan terhadap kehidupan pun ikut menjadi kompleks, sekompleks kehidupan yang menjadi sumur inspirasi utamanya.

Sabtu, 04 Juni 2011

Tabir Tragedi Mei 1998

Mengenang tragedi Mei 1998? Pada titik mana kita mengheningkan cipta? Hidup para mahasiswa yang gugur? Ribuan kematian yang terpanggang api dan amuk penjarahan? Rezim Soeharto yang runtuh? Awal reformasi yang mengawali ilusi hari ini?

Entah yang mana, brutalitas kekerasan Mei 1998 masih utuh tak tersentuh dan teka-tekinya terkunci bahkan bagi para pemberani. Seperti setiap teka-teki tentang tragedi besar, dalam diam khalayak tetap menyimpan pertanyaan.

Maka, sementara kita mengenang dan mengheningkan cipta, mungkin ada gunanya mengingat lagi teka-teki brutalitas peristiwa yang masih utuh tak tersentuh. Ia tidak akan terkuak sebelum tiga pertanyaan besar ini terjawab. Pertama, mungkinkah gelombang kekerasan Mei 1998 itu terjadi secara spontan? Kedua, apa artinya pola sistematik yang terjadi dalam kekerasan serentak? Ketiga, apakah masuk akal badan intelijen tidak tahu sebelumnya kekerasan massal yang bersifat serentak dan sistematik itu?

Keserentakan kekerasan

Sangatlah ganjil ledakan kekerasan dalam skala kolosal seperti Mei 1998 terjadi pada waktu yang bersamaan. Kekerasan berskala kolosal yang terjadi pada waktu bersamaan di seluruh Jakarta pun sudah amat sangat ganjil. Apalagi kekerasan tersebut meledak pada waktu bersamaan dalam skala seluas Jabotabek dan kota-kota lain. Istilah ”pada waktu bersamaan” merupakan kunci.