Tampilkan postingan dengan label Kasus Munir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasus Munir. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2012

Munir dan Reformasi Militer

Oleh Al araf

Pada 7 September 2004, derap kaki Munir—sang pejuang HAM—terhenti untuk selama-lamanya di dalam pesawat milik maskapai kebanggaan kita: Garuda Indonesia.

Di tengah hiruk-pikuk Pilpres 2004 dan perdebatan RUU TNI, Cak Munir—begitu panggilan akrabnya—dibunuh secara kejam dan sistematis dengan menggunakan racun arsenik. Hingga kini pengungkapan kasus Munir masih menghadapi jalan buntu.

Sedari awal, pengungkapan kasus Munir sudah melalui jalan yang berkelok dan penuh keganjilan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terlihat setengah hati dalam mengungkap kasus Munir. Pada awalnya, Presiden SBY tegas menyatakan pengungkapan kasus Munir sebagai test of our history yang kemudian diikuti dengan pembentukan tim pencari fakta (TPF) melalui keputusan presiden. Langkah ini tentu disambut baik banyak kalangan. Namun, dalam perjalanannya, langkah pemerintahan SBY dipenuhi kegamangan dan keragu-raguan.

Presiden SBY tidak berbuat apa-apa ketika Muchdi PR diputus bebas di tingkat Mahkamah Agung. Padahal, Komite Aksi Solidaritas untuk Munir sudah mendesak Presiden untuk memerintahkan Jaksa Agung melakukan peninjauan kembali atas putusan bebas itu sebagai wujud nyata keseriusan pemerintah.

Pembunuhan terhadap Munir jelas bukan pembunuhan biasa sehingga penyelesaiannya tidak bisa dilepas begitu saja oleh Presiden. Pengungkapan kasus ini membutuhkan sebuah kemauan, kesungguhan, dan konsistensi politik Presiden yang sangat tinggi. Mungkin dugaan keterlibatan pihak-pihak dalam lembaga intelijen negara menjadi penyebab kegamangan SBY sehingga kesulitan menemukan aktor di belakang layar kasus pembunuhan Munir.

Sabtu, 10 September 2011

Route Map Kasus Munir

Klik Gambar untuk Lihat Dalam Ukuran Penuh














Berikut adalah Route Map Kasus Munir yang coba kami ilustrasikan;

Refuse to Forget Project - 2011
http://refusetoforgetproject.blogspot.com

Minggu, 28 Agustus 2011

Sekali Lagi, Jangan Lupakan Munir

Oleh Adi Wicaksono

Barangkali ada benarnya ungkapan kuno yang mengatakan bahwa pahlawan itu tidak pernah dilahirkan melainkan “diciptakan”. Siapa pun maklum bahwa setiap masyarakat, budaya, atau negara-bangsa membutuhkan pahlawan sebagai simbol sekaligus wahana untuk mengukuhkan suatu sejarah yang dapat diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Pengukuhan sejarah tersebut tentu didasari oleh bermacam-macam preferensi dan kesepakatan kolektif yang terbentuk oleh kepentingan yang bermacam-macam pula.
             
Mulai zaman kesukuan (tribalisme), kerajaan, sampai zaman ke-negaraan mutakhir, ternyata pahlawan diciptakan cenderung untuk mengukuhkan sejarah versi kaum yang berkuasa. Pahlawan dan klaim-klaim kepahlawanan adalah hasil ciptaan kelompok yang dominan berupa sekumpulan kisah personal tentang penaklukan demi penaklukan, hikayat perihal “kemenangan” kolektif yang dipersonifikasikan pada kekuatan moral seorang individu yang visioner dan seolah-olah mengatasi sejarah.

Atau sekurang-kurangnya sebuah kisah kekuatan moral yang luar biasa dari seorang individu yang mewakili kehebatan dan kecemerlangan manusia sebagai makhluk yang tak tertaklukkan oleh apa pun selain cita-cita kemanusiaan itu sendiri. Ini adalah jenis pehlawan universal. Dan kita mafhum bahwa pahlawan jenis ini sesungguhnya dapat dijumpai di mana-mana, hidup dan mati di tengah masyarakatnya dengan atau tanpa pemujaan. Sebagian dibuatkan monumen dan sebagian yang lain dilupakan.

Senin, 27 Juni 2011

Munir; Masih Ada !

6 tahun dibunuh, 6 tahun tampa keadilan, 6 tahun kami tidak “LUPA”

 Oleh Ananto Setiawan

 
“…Segelintir angin berhembus dari bebatuan, menabrak gunung, menabrak lautan
Laksana bara api dari kawah berduri, yang apinya tak pernah padam
Tak pernah padam
Meskipun darah mengering, mata pena berkarat,
puing-puing telah kembali merata dengan tanah.
Namun api itu tak pernah padam
Tak pernah padam !!!..”
Indonesia, sebuah negri yang seakan memiliki penyakit kronis yang sangat akut. Penyakit kronis yang sebenarnya hanya bisa diobati dengan keteguhan hati untuk mengakui catatan sejarahnya yang hitam, penyakit ini yang biasa kita sebut dengan “LUPA”. Penyakitnya para kaum telangas dan penguasa pengecut yang selalu bersembunyi dibalik ketiak kekuasaan, mencari suaka diri agar aman berebut  jatah kursi di pemilu nanti.Penyakit yang menyuntik otak rakyat kecil dengan serangkaian ritual kekerasan, yang terus-menerus di daur ulang dari masa ke masa, waktu ke waktu, generasi ke generasi, kemudian  menjadikan kebenaran tak lebih dari hanya sebuah pembenaran, sehingga “LUPA” menjadi sesuatu hal yang konstitusional. Kerlap-kerlip reformasi yang datang di akhir tahun’98 pun tak ubahnya seperti kunang-kunang yang menghiasi sudut jalan yang diselimuti kegelapan, cahayanya kadang redup, kadang tenggelam termakan jilatan malam. Wajah-wajah yang dulu sumeringah kini pucat pasi menanti kepastian yang tiada pasti.

Selasa, 07 Juni 2011

Sesaat Munir Dibunuh

6 September 2004. Malam hari, sepasang suami istri berbincang di depan pintu keberangkatan internasional Bandara Soekarno-Hatta. Keduanya akan berpisah setahun setelah hidup bersama sembilan tahun. Sang suami, Munir Said Thalib, akan melanjutkan studi S2 bidang hukum humaniter di Universitas Utrecht, Belanda.

Pukul 21.30 WIB. Melalui pengeras suara, seluruh penumpang pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 974 tujuan Amsterdam dipersilakan petugas bandara naik ke pesawat. Rombongan orang kulit putih bergegas, banyak dari mereka adalah warga negara Belanda. Munir juga akan menggunakan jasa maskapai andalan bangsanya itu.

Saat akan memasuki pintu pesawat, Munir bertemu Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda yang biasa dipanggil Polly. Status Polly dalam penerbangan ini adalah extra crew, yaitu kru yang terbang sebagai penumpang dan akan bekerja untuk tugas lain. Mereka bertemu di dekat pintu masuk kelas bisnis. Sebagai penumpang kelas ekonomi, Munir sebenarnya akan lebih dekat dengan tempat duduknya bila masuk melalui pintu belakang.

Kamis, 02 Juni 2011

Justice for Munir, Justice for All !!



6 years murdered, 6 years whitout justice, 6 years we not forget.
Munir case is unfinished.
(Refuse to Forget Project - 2011)