Minggu, 29 Januari 2012

Malari 1974 dan Sisi Gelap Sejarah

Oleh: Asvi Warman Adam*

 KEKERASAN di Indonesia hanya dapat dirasakan, tidak untuk diungkap tuntas. Berita di koran hanya mengungkap fakta yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Kasus 15 Januari 1974 yang lebih dikenal “Peristiwa Malari”, tercatat sedikitnya 11 orang meninggal, 300 luka-luka, 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 bangunan rusak. Sebanyak 160 kg emas hilang dari sejumlah toko perhiasan.

Peristiwa itu terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka sedang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangannya dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara. Itu memperlihatkan, suasana Kota Jakarta masih mencekam.

PERISTIWA Malari dapat dilihat dari berbagai perspektif. Ada yang memandangnya sebagai demonstrasi mahasiswa menentang modal asing, terutama Jepang. Beberapa pengamat melihat peristiwa itu sebagai ketidaksenangan kaum intelektual terhadap Asisten pribadi (Aspri) Presiden Soeharto (Ali Moertopo, Soedjono Humardani, dan lain-lain) yang memiliki kekuasaan teramat besar.

Senin, 23 Januari 2012

Membongkar Pesan Sondang



Membongkar Pesan Sondang untuk
Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia.
Video:13 Tahun Kekerasan - Kini Aku Paham Pilihan Sondang.
Directed By Ananto Crust
Published By HAMmurabi & The Forgotten Journal's
Producted By Refuse To Forget Project - 2011.
http://refusetoforgetproject.blogspot.com.

Sabtu, 21 Januari 2012

NEGARA PRODUSEN KEKERASAN


Oleh : M. Ananto Setiawan* 

Hari dan tahun berganti, namun negara ternyata masih gemar menebar benih kekerasan dalam masyarakat. Meski sudah genap 13 tahun reformasi menggaungi nafas Ibu Pertiwi, tapi pola-pola yang telah diterapkan rezim sebelumnya – selama 32 tahun – masih tertancap keras di negeri ini. Kekerasan yang terus didaur ulang ke dalam bentuk otoritarianisme baru di tengah masyarakat, masih menjadi momok yang begitu mengerikan, terutama bagi masa depan bangsa Indonesia. 

Ketakutan yang ditebar dimana-mana, tak jarang beriringan dengan semerbak bau mesiu dari selongsong senapan. Atas nama keamanan, aparat bersenjata lengkap masih dapat kita lihat di persimpangan jalan, maupun pojok pertokoan. Tanpa ragu mereka siap menembak, sesuai perintah atasan. Gambaran kehidupan demokratis nampaknya masih terlalu jauh jika dibandingkan dengan berapa banyak senapan yang telah memakan korban.

Tak pelak, sindrom ini pun ikut menjangkiti masyarakat kita. Kekerasan demi kekerasan itu kini melebur dalam etnosentrime berkedok keagamaan, kelompok mayoritas, kesukuan, atau segala macam fanatisme berlebihan. Mungkin masih segar di ingatan kita bagaimana kelompok itu menghalalkan kekerasan atas nama keyakinan, juga betapa seringnya kita lihat batu bertebaran di jalan akibat pelajar yang tawuran.

Senin, 02 Januari 2012

Sondang; Sebuah Nama Sebuah Perjuangan

Oleh Rizky PP
“bang, gw nitip HAMmurabi yah”, itulah pesan singkat terakhir Sondang Hutagalung kepada Dharma, wakil Kordinatornya di HAMmurabi. Pesan yang diterima pada 2 Desember 2011 lalu begitu singkat, hingga keabaian kami akhirnya berbuah pada aksi ekstrem Sondang untuk melakukan upaya membakar diri di depan istana Negara.

Pemuda 170 cm yang berperawakan tegap ini lahir pada 12 November 1989, anak bungsu dari orang tua Victor Hutagalung dan Dame Sipahutar. Di mata keluarga, ia merupakan pribadi yang sangat patuh kepada keluarga dan orang tua. Kedekatan itu sangat terasa manakala terakhir ia mencabuti uban sang ibu beberapa hari sebelumnya. Berdasarkan cerita kecil pada kami, teman – teman seorganisasinya, ia memang sangat mencintai keluarganya. Begitu cintanya sehingga ia tidak pernah sekalipun merengek untuk dibelikan sesuatu yang dianggapnya tidak penting. Sepatu yang dikenakannya pada saat melakukan aksi pun merupakan pemberian kakaknya, kesederhanaan selalu terbingkai apik dalam rautnya.

Bulan lalu Sondang baru saja menapaki usia ke – 22, bagi kami Sondang adalah “simba the lion king”, begitu lembut, ramah kepada orang di sekelilingnya tapi begitu marah pada ketidak adilan di sekitarnya. Sondang baru saja terpilih menjadi Koordiator Himpunan Advokasi-study Marhaenis Muda Untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia (HAMmurabi) juli lalu, ia kerap kali melakukan advokasi – advokasi korban pelanggaran HAM. Ia kerap kali memberikan himbauan kepada kami untuk berhati – hati dalam melakukan aksi, agar selalu melihat situasi politik sebelum melakukan aksi, agar terhindar dari klaim para politisi busuk yang coba menunggangi keikhlasan kita untuk memperjuangkan para korban.

Selasa, 13 September 2011

Kronologi Tragedi Tanjung Priok Berdarah 1984 oleh Saksi Mata Ust. Abdul Qadir Djaelani

 Abdul Qadir Djaelani adalah salah seorang ulama yang dituduh oleh aparat keamanan sebagai salah seorang dalang peristiwa Tanjung Priok. Karenanya, ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Sebagai seorang ulama dan tokoh masyarakat Tanjung Priok, sedikit banyak ia mengetahui kronologi peristiwa Tanjung Priok. Berikut adalah petikan kesaksian Abdul Qadir Djaelani terhadap peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984, yang tertulis dalam eksepsi pembelaannya berjudul “Musuh-musuh Islam Melakukan Ofensif terhadap Umat Islam Indonesia”.

Tanjung Priok, Sabtu, 8 September 1984

Dua orang petugas Koramil (Babinsa) tanpa membuka sepatu, memasuki Mushala as-Sa’adah di gang IV Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Mereka menyiram pengumuman yang tertempel di tembok mushala dengan air got (comberan). Pengumuman tadi hanya berupa undangan pengajian remaja Islam (masjid) di Jalan Sindang. Tanjung Priok, Ahad, 9 September 1984 Peristiwa hari Sabtu (8 September 1984) di Mushala as-Sa’adah menjadi pembicaran masyarakat tanpa ada usaha dari pihak yang berwajib untuk menawarkan penyelesaan kepada jamaah kaum muslimin. Tanjung Priok, Senin, 10 September 1984 Beberapa anggota jamaah Mushala as-Sa’adah berpapasan dengan salah seorang petugas Koramil yang mengotori mushala mereka. Terjadilah pertengkaran mulut yang akhirnya dilerai oleh dua orang dari jamaah Masjid Baitul Makmur yang kebetulan lewat. Usul mereka supaya semua pihak minta penengahan ketua RW, diterima. Sementara usaha penegahan sedang.berlangsung, orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak ada urusannya dengan permasalahan itu, membakar sepeda motor petugas Koramil itu. Kodim, yang diminta bantuan oleh Koramil, mengirim sejumlah tentara dan segera melakukan penangkapan. Ikut tertangkap 4 orang jamaah, di antaranya termasuk Ketua Mushala as-Sa’adah.

Minggu, 11 September 2011

Membangun Bangsa, Menolak Militerisme posters

Klik Gambar untuk Lihat Dalam Ukuran Penuh
Kekerasan demi kekerasan yang terus meningkat, bentrokan disana-sini, konflik merebak dimana-mana, tahan petani dicomoti, rumah-rumah dirampas, rakyat ditembaki, orang benar dibunuh, aktivis dipukuli, sepak bola diintervinsi, berdiri menyanyi-nyayi di istana, di iringi tangisan bayi kelaparan. ahh, sudahlah. aku masih yakin bahaya utama dibangsa ini adalah Militerisme !!






Membangun Bangsa, Menolak Militerisme ! Jejak Pemikiran Munir, 1965 - 2004.
(Refuse to Forget Project - 2011)
http://refusetoforgetproject.blogspot.com

Sabtu, 10 September 2011

Route Map Kasus Munir

Klik Gambar untuk Lihat Dalam Ukuran Penuh














Berikut adalah Route Map Kasus Munir yang coba kami ilustrasikan;

Refuse to Forget Project - 2011
http://refusetoforgetproject.blogspot.com